Website Desa: Dari Infomobilisasi Menuju Mobilisasi Sumberdaya

pengelolaan website dan mobilisasi sumberdaya desa

Pengelolaan Website Desa dan Mobilisasi Sumberdaya Perdesaan

Keberadaan website desa (desa.id) telah memberi warna baru dunia internet di Indonesia. Pada November 2013, jumlah web desa hampir mencapai angka 1000. Angka ini cukup fantastis karena sebagian besar desa mampu mengelola web justru berasal dari daerah yang tidak memiliki akses internet yang bagus. Untuk sekadar mengunggah konten, mereka susah payah mencari titik akses di kota terdekat. Dahsyatnya, desa-desa itu justru mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi warganya berkat promosi dan pemasaran produk unggulan desa secara online.

Sebutlah Karangnangka, sebuah desa di lereng Gunung Slamet di Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas. Lewat website mereka http://karangnangka.desa.id beragam produk unggulan desa dipublikasikan secara rutin. Ada benih ikan, susu segar, mebeler, es cream, peternakan, dan lainnya. Dampaknya, komoditas desa itu tak sekadar diketahui oleh warga setempat tapi juga para pelaku ekonomi di daerah lainnya. Sekarang penjualan benih ikan gurami warga Desa Karangnangka sudah berlangsung antarkota sehingga setiap hari total omzet benih yang terjual mencapai 2-3 juta rupiah.

Hal serupa terjadi di Desa Keniten yang terletak di sebelah barat Desa Karangnangka. Pada akhir 2012, mereka mengelola website desa untuk mempublikasikan produk-produk kampung, adat, dan berita-berita yang terjadi di desa. Bedug merupakan produk andalan Desa Keniten. Berkat adanya http://keniten.desa.id penjualan bedug keniten sudah menyebar secara nasional. Para pemesan bedug mereka ada yang Aceh, Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, dan kota-kota lainya di Sumatra dan Kalimantan.

Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) melaporkan internet merupakan media yang tren penggunanya terus meningkat setiap tahun. Pada 2013, ada 82 juta penduduk Indonesia menjadi pengguna internet. Pada 2014, APJII memprediksi ada 107 juta pengguna internet dan pada 2015 ada 138 juta pengguna. Jumlah itu merupakan pangsa pasar potensial yang sangat besar bagi pemasaran produk-produk unggulan desa.

Hal itu menunjukkan keberadaan website desa memiliki hubungan yang erat dengan tata kelola dunia perdesaan. Keberadaan website desa tak sekadar sebagai media untuk menyebarluaskan informasi (infomobilisasi) dari desa tapi juga untuk mendorong tumbuhnya para pelaku ekonomi dan pemasaran produk unggulan di dunia perdesaan (mobilisasi sumberdaya). Bila tren di sejumlah desa itu mampu direplikasi oleh desa-desa lainnya, maka bukan hal yang mustahil apabila 5-10 tahun ke depan, desa mampu menjadi garda depan pertumbuhan ekonomi nasional.

Desa memiliki prasyarat paling lengkap untuk memimpin gerakan pertumbuhan ekonomi nasional. Mereka memiliki rantai produksi barang dan jasa yang didukung oleh sumberdaya manusia dan alam sekaligus. Ambil contoh, untuk produksi bedug para pengrajin di Desa Keniten tak kebingungan stok bahan baku karena pohon Trembesi tumbuh subur di daerah itu. Hal itu merupakan anugrah terbesar yang diberikan oleh Sang Pencipta kepada desa. Bila warga desa mampu mengelola semua aset itu, meminjam bahasa Vicky, konspirasi kemakmuran dan kudeta labil ekonomi akan menjadi miliki desa. Desa akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi kerakyatan yang memiliki fondasi sangat kuat.

Untuk mendorong desa menjadi basis-basis ekonomi membutuhkan kerja keras dan kerja cerdas. Kondisi desa saat ini sudah berada dalam titik pendulum paling bawah dalam sejarah akibat praktik pemiskinan yang dilakukan oleh negara (baca: pemerintah). Kebijakan pembangunanisme (developmentalism) menempatkan desa pada posisi marjinal, bahkan desa-desa acapkali dikorbankan untuk mengamankan mega proyek pembangunan pemerintah. Akibatnya, perekonomian nasional sangat rapuh saat menghadapi badai krisis moneter. Sayang, alih-alih memperkuat fondasi perekonomian desa, pemerintah memfasilitasi perampokan triliun uang rakyat oleh segelintir orang atas nama penyelamatan ekonomi, seperti kasus BLBI maupun Century.

Agar tidak mengulang sesat pikir pembangunanisme, perekonomian desa harus lahir dari kreativitas para pelaku ekonomi desa dalam mengelola sumberdaya secara arif dan berkelanjutan. Pertumbuhan perekonomian di desa merupakan cerminan dari daya cipta, karsa, dan inovasi warga yang tinggal di dunia perdesaan. Di sinilah, warga desa perlu memiliki ruang belajar kolektif untuk mengembangkan kapasitas, membuat model, dan melakukan ujicoba atas gagasan dan praktik perekonomian yang tengah mereka lakukan.

Untuk menguatkan fondasi perekonomian desa, pendekatan infomobilisasi sukses mendorong pengarusutamaan isu-isu perdesaan. Berkat dukungan teknologi informasi dan komunikasi, isu perdesaan secara perlahan bergeser dari pinggiran menuju arus utama. Tapi, tren tersebut belum dibarengi dengan cara pandang baru tentang desa, bahkan suara desa acapkali menguatkan cara pandang arus utama. Di sinilah, pemikiran Antonio Gramsci tentang hegemoni mampu melukiskan situasi yang terjadi di dunia perdesaan. Warga desa belum mampu menawarkan diskursus tandingan, bahkan mengamini diskursus lama yang terbukti menyebabkan mereka terpuruk dalam dunia keterbelakangan dan kemiskinan.

Dukungan kebijakan yang memberikan ruang seluas-luasnya bagi desa untuk mengembangkan basis-basis perekonomi mutlak diperlukan. Secercah asa masih tersisa dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Desa. Sayang, RUU Desa sempat diplintir sebagai RUU Pemerintah Desa sehingga keterlibatan warga desa sangat minim dibanding para elit desa (baca: kepala desa). Berkat kerjakeras dan kerja cerdas dari warga desa yang aktif dan para kepala desa yang tercerahkan, maka RUU Desa mampu diselamatkan dari kungkungan kepentingan elit dan mengakomodasi kepentingan warga desa.

Pendekatan mobilisasi sumberdaya mendorong praktik infomobilisasi menciptakan peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Perekonomian desa tumbuh akibat para pelaku ekonomi desa mampu mengemas gagasan dan kreativitasnya menjadi gagasan kolektif publik. Publik bisa menerima produk-produk unggulan desa sehingga jaringan pemasaran maupun produksi semakin luas. Pada situasi itu, desa akan berubah menjadi tulang punggung perekonomian nasional yang kokoh.

Yossy Suparyo, Warga Desa Gentasari, Kroya, Cilacap

4 Responses to Website Desa: Dari Infomobilisasi Menuju Mobilisasi Sumberdaya

  1. Duhari Daya says:

    Kulu nuwun mas Yosi…kapan web http//pegiringan_pemalang@desa.or.id terealisasi,,matur suwun

  2. Pingback: Website Desa: Dari Infomobilisasi Menuju Mobilisasi Sumberdaya | Desa Hanura

  3. Hisam Setiawan says:

    Mbok disenggol-senggol juga desa-desa yang ada di luar jawa…..
    Ngarep….

  4. Made Sumitre says:

    Desa harus mulai dapat memberikan informasi .. desa modern.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

*

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>