Catatan #Ngopikere: Gunung Kelir Sukses Kembangkan Komoditi Agraris di Dunia 2.0

image

Gunung Kelir merupakan gugusan perbukitan menoreh di Kawasan Desa Donorejo, Kaligesing, Purworejo. Secara geografis, posisi Gunung Kelir terletak dataran tinggi yang jauh dari perkotaan. Namun, dia mampu menembus segala keterisolasian dan keterbatasan fisik. Nama Gunung Kelir tersebarluas melalui dunia internet hingga reputasinya mampu melampaui batas-batas dunia.

Gunung Kelir identik dengan budidaya kambing etawa sekaligus desa dijital. Dua ikon itu sangat kontras karena mewakili dua entitas yang berbeda, rural dan modernitas. Dua entitas yang acapkali ditempatkan dalam posisi vis a vis itu mampu melebur dalam balutan kosmos perbukitan menoreh yang menyimpan sejumlah legenda tanah jawadwipa.

Budidaya kambing etawa di Gunung Kelir telah berkembang sejak era kolonialisme Belanda. Kambing jenis etawa merupakan jejak kebijakan impor pemerintah kolonial pada India pada era prakemerdekaan. Awalnya, kambing jenis etawa menjadi simbol masyarakat priyayi, seperti bupati, wedono, saudagar, dan kepala desa, karena merekalah kelompok yang dekat dengan pemerintah kolonial.

image

Setelah era kemerdekaan banyak warga yang tertarik mengembangkan kambing jenis itu. Budidaya kambing etawa membawa perubahan besar bagi peningkatan perekonomian warga. Ada istilah haji wedhus, sarjana wedhus, maupun gedong wedhus. Wedhus adalah bahasa Jawa yang artinya kambing. Jadi, banyak warga yang bisa berkunjung ke Mekah (Islam: Ibadah Haji), meraih gelar sarjana, maupun membangun rumah mewah karena usaha mereka membudidayakan kambing etawa.

Kunci keberhasilan budidaya kambing etawa di Donorejo juga penuh dengan balutan ambiguitas, antara mitos dan rasionalitas. Hal itu disampaikan oleh Toto Sugiarto, sang penunggu @gunungkelir. Menurutnya, warga yang membudidayakan kambing etawa dilarang menjual induk dan anaknya secara bersamaan. Selain itu, warga dilarang menjual pejantan (bandot) sebelum memiliki dua pejantan lain. Bila kepercayaan itu dilanggar maka akan berakibat pada keberlangsungan usahanya.

image

Toto Sugiarto mengembangkan peternakan kambing etawa setelah menjadi veteran di sebuah perusahaan kontaktor. Setelah lulus SLTA, Ia diterima sebagai karyawan perusahaan kontraktor. Karirnya terus berkembang hingga dia menjadi seorang manajer teknis di perusahaan itu. Pada akhirnya, Toto memutuskan hidup di desa atas panggilan bundanya yang berharap dirinya dekat dengan keluarga.

Untuk membangun nilai kompetitif usahanya, Toto Sugiarto membuat website dengan alamat http://gunungkelir.com dan http://kambingetawa.org sebagai media publikasi dan berbagi pengalaman. Selain itu, dia membuat akun di situs sosial media Twitter dengan nama @gunungkelir. Lewat strategi 2.0 itu, usaha budidaya kambing etawa yang dikelolanya makin berkembang, bahkan kini Toto memiliki mitra bisnis di sejumlah daerah seperti Boyolali, Cijulang, Ciamis, dan kota lainnya.

Bagi Toto, banyak pengalaman warga dalam membudidayakan kambing etawa yang belum terdokumentasikan sehingga generasi muda sulit mempelajarinya. Beragam pengetahuan, pengalaman, kiat sukses, dan ujicoba seharusnya menjadi pengetahuan kolektif yang menjadi modal sosial warga dalam peningkatan harkat dan martabatnya.

3 Responses to Catatan #Ngopikere: Gunung Kelir Sukses Kembangkan Komoditi Agraris di Dunia 2.0

  1. totok says:

    terima kasih mas

  2. mt says:

    Ulasan paling top ya ini!
    MerDESA!

  3. Maztrie says:

    Review yang bisa membuka cakrawala
    Makasih Mas…

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

*

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>