Mengangkat Derajat Desa Lewat Kopi

luwak pemakan biji kopi

Peternakan Luwak Desa Melung

Setiap pagi dalam linimasa @desamembangun selalu muncul ucapan dan sapaan yang diikuti dengan kosakata kopi. “Selamat pagi, udara makin hangat dengan segelas kopi.” Kawan jauh @jwaluyo yang berdiam di Kota Pontianak menjadi peringkat pertama orang yang sering menggunakan kata kopi.

Adakah hubungan kata kopi dengan kerja pemberdayaan perdesaan? Tanpa harus berpikir analitik, hubungan kopi dan perdesaan terkait dengan asal-usulnya. Kopi menjadi salah satu produk unggulan di wilayah perdesaan. Kopi merupakan produk desa yang mampu mengukir derajatnya dalam kelas internasional, sebut saja kopi luwak, kopi toraja, kopi gayo, dan kopi mandheling. Nama mereka sudah tidak asing lagi dalam jagad perkopian skala internasional.

Di dunia perkopian, Indonesia sendiri menempati posisi mentereng. Indonesia merupakan perigkat empat negara penghasil kopi terbesar di dunia, setelah Brazil, Vietnam, dan Columbia. Salah satu kopi unggulan Indonesia adalah kopi luwak. Kopi luwak aslk bertekstur kental seperti sirup, memiliki rasa berunsur coklat, dan beraroma seperti vanilla dan hutan liar. Bagi penikmat kopi, kopi luwak seperti aroma tanah saat hujan membasahi bumi pertiwi.

Perpaduan rasa pahit dan masam yang pas dibarengi dengan aromanya yang harum membuat para penikmat kopi tergila-gila dengan kopi luwak. Urusan kopi tak sekadar untuk hilangkan kantuk, tapi sudah merambah ke urusan citarasa dan gaya hidup. Harganya bisa mencapai 1 juta untuk 500 gr kopi, bahkan di luar negeri bisa mencapai 4-5 juta rupiah.

Kopi untuk Kedaulatan Desa

Sayang, keharuman kopi Indonesia belum mampu mendongkrak posisi desa dimana kopi dikembangbiakan dalam kasta yang dihormati di masyarakat. Sebagian besar komoditi kopi masih dikuasai oleh perkebunan yang dikelola pemerintah maupun swasta. Harga kopi yang dikembangkan warga masih terpuruk di posisi dasar.

Langkah menarik tengah dikembangkan oleh warga Desa Melung yang dipelopori oleh kelompok perempuan setempat. Mereka tengah mengembangkan peternakan luwak (semacam musang gunung) untuk menghasilkan kopi luwak. Usaha tersebut cukup menyita perhatian di Gerakan Desa Membangun (GDM) karena obrolan hangat di dunia jejaring sosial.

Gagasan peternakan luwak diawali dari obrolan ringan tentang pengembangn ekonomi desa. Kebetulan di desa itu ada warga yang memiliki keahlian menangkap luwak. Lalu ada warga yang coba-coba memeliharanya dalam kandang karena keisengannya mencari informasi di internet. Berbekal informasi tersebut, luwak yang dikandang diberi makanan seperti saat luwak hidup bebas di alam.

4 Responses to Mengangkat Derajat Desa Lewat Kopi

  1. Joko Waluyo says:

    Yang pasti minum kopi bisa membuat hidup semakin hidup. Semangat!

  2. admin says:

    mari bersulang segelas kopi panas, sore ini kang

  3. Minta izin buat dimasukkan ke dalam web kami yah min.
    Ikutan bersulang kopi, srupuuut

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

*

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>