Strategi Kuatkan Daya Tawar Desa

Hasil Bumi Dunia Perdesaan

Sektor pertanian memberikan kontribusi 19,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dari keseluruhan sektor perekonomian Indonesia. Meski secara absolut masih lebih kecil dari sektor lainnya–jasa (43,5 prosen dan manufaktur (23,9 persen), namun sektor pertanian merupakan penyerap tenaga kerja terbesar, yaitu sebesar 47,1 prosen.

Sebagian besar wilayah pertanian berada di daerah perdesaan. Tak bisa dimungkiri, warga desa sangat tergantung pada sektor hasil bumi dan rempah-rempah. Sementara itu, warga kota punya ketergantungan pada suplai hasil bumi dari desa. Seharusnya desa mampu memanfaatkan hasil bumi tersebut sebagai alat untuk bernegosiasi dengan pihak lain.

Mengutip bahasa Yossy Suparyo, di sinilah obrolan tentang politik rasa perlu dilakukan. Politik rasa merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia. Dalam dunia kuliner, rasa menjadi kunci utama kejayaan sebuah usaha jasa boga. Rasa pedas, pahit, asin, manis, gurih, dan asam ditentukan oleh aneka rempah-rempah yang banyak tersebar di desa-desa. Rasa pedas dihasilkan dari lada, cabe, dan jahe. Rasa asin ditentukan oleh garam.

Akibat politik rasa Indonesia terbelenggu dalam kolonialisme selama ratusan tahun. Ambil contoh kopi, tamanan biji-bijian beraroma harum dan rasa cenderung pahit itu memiliki kisah spektakuler. Sebelum 1808, kopi hanya ditanam oleh sebagian petani di daerah Sunda. Lalu, pada era Daendels (awal abad 18) kopi menjelma sebagai komoditas paling populer di nusantara. Bahkan, keberlangsungan pemerintah kolonial sangat tergantung pada produk ini sehingga menerapkan sistem tanam paksa 1.000 batang kopi per keluarga.

Keuntungan yang diperoleh Pemerintah Belanda dari kopi sebesar 300.000 pikul atau senilai 4.5 juta gulden. Angka itu hampir separuh dari pemasukan pemerintah kolonial pada sektor pertanian yang hanya 10,7 juta gulden. Bisa dikatakan kopi menjadi titian ekonomi orang-orang Eropa yang berjaya dalam sektor bisnis perkebunan dan rempah.

Apakah politik rasa memiliki nilai tinggi dalam negosiasi? Jelas, tak ada seorangpun di muka bumi yang sudi mengonsumsi makanan yang hambar tanpa rasa. Pada abad 17, para pedagang Eropa mengarungi samudra luas untuk mencari rempah-rempah, seperti merica, pala, cengkeh, dan hasil bumi lainnya. Bahkan, tak sedikit peperangan besar terjadi akibat urusan politik rasa ini.

Kedaulatan rasa akan akan menegakkan kedaulatan ekonomi. Saat ini, para petani atau pedagang kecil memperoleh harga rendah untuk produk-produk mereka. Setidaknya, ada tiga permasalahan yang dialami warga desa dalam pengelolaan produk hasil bumi:

  1. Jumlah pembeli dan penjual hasil bumi sangat terbatas akibat kendala-kendala berupa hambatan-hambatan geografis (spasial) dan temporal;
  2. Warga desa tidak memiliki media untuk menentukan harga secara kolektif (collective price determination), dan
  3. Warga desa sulit mengakses informasi harga dari dunia luar.

Sudah saatnya desa memikirkan sistem tata kelola hasil bumi dan rempah-rempah di daerahnya. Pengetahuan dan keterampilan dalam pengelola hasil bumi bukan hal baru bagi warga desa. Pada zaman dulu, metode dan strategi pengelolaan hasil bumi maujud dalam lumbung desa. Selanjutnya, kita tinggal melakukan modifikasi dan pengembangan konsep lumbung desa dengan semangat zaman.

4 Responses to Strategi Kuatkan Daya Tawar Desa

  1. Ibnu Taufan says:

    SETUJU. Lumbung desa akan memperkuat kedaulatan pangan (desa) plus kedaulatan terhadap “pasar” ….

    • admin says:

      senang bila bung Ibnu Taufan bisa ikut jadi bagian yang merumuskan dan ujicoba gagasan ini karena keterbatasan sumber daya yang ada di desa. Mari kolaborasi yah…

  2. Renan S says:

    Tulisan itu cukup menarik dan perlu dikaji lebih mendalam, namun kajian tentang konsep lumbung desa belum mendalam.terimakasih

    • admin says:

      Bung Renan S betul. Kami butuh banyak dukungan pikiran untuk urun rembug. Maaf balasan terlambat karena akses internet di desa sangat terbatas. Salam

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

*

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>