Di Seratus Hari Keberangkatan: Catatan Pertama Untuk Haedar Laujeng

Haedar Laujeng, Filsuf Bertopi

Beberapa hari lagi seseorang telah pergi menunggangi waktu tepat di angka ke seratus hari. Tanah basah di kelengangan perbukitan Limboro, jauh di pesisir jantung Sulawesi sana, akan mengering, kemudian akan tertiup angin pantai dan menebarnya pada kedalaman hati dimana kenangan bertahta dan terkunci.

Tidak banyak yang kuketahui tentangnya, selain cerita-cerita mistis perihal seorang lelaki terakhir yang tersisa di hiruk-pikuk zaman, yang merambah desa demi desa, hingga berjatuhan, seperti cemara-cemara hutan yang berguguran ketika angin beku musim gugur menelisik dalam dari kutup utara di sebuah desa kecil bernama Falkland, di pinggir laut utara Scotlandia, di situ aku mematung di antara kastil-kastil tua.

Seperti cemara, lelaki itu bertahan di puncak keyakinan akan desa dan orang-orang mereka yang bersahaja menjaga peradaban dan alam serta mengantarkannya ke generasi masa datang. Karena itulah ia kemudian memilih karir monumental awal sebagai Kepala Desa, seorang lawyer muda yang kembali ke pangkuan budaya dari darah Kaili yang membakar setiap pembuluh arteri dan nafasnya yang berhenti seratus hari lalu.

Seratus hari lalu, seperti bayangan seorang “British Knight” dengan kuda hitam kukuh bergerak perlahan menuruni perbukitan Cotswold. Ladam kudanya berdebam perlahan pada hentakan lemah di antara pokok-pokok pinus. Angin mendesau, menghipnotisku, hingga mematung dipintu pada panggung kecil di pintu belakang “ranch” tua di sisi punggung bukit sebelahnya.

Meskipun terlihat kukuh, huyungan tubuhnya mengabarkan sebuah lelah peradaban yang tak tertanggungkan, perjalanan jauh dari pertempuran besar di “Holly Land”, yang seperti tungku di pemanggangan. Kesatria itu mengantar sebuah berita, seseorang telah pergi. Ya seseorang telah pergi! Seketika lelaki kusut masai dengan kacamata minus itu hadir lengkap dengan helaan kretek evolusion merah yang melentik melawan masa.

Saya kira, hanya diamlah yang akan dapat memaknai sebuah hubungan panjang namun terasa sangat cepat dimana waktu yang terentang seperti dipenggal paksa, sebab kata telah menumpang pergi bersamanya. Pada setiap kelokan jalan berliku yang menyisiri tahun demi tahun, di situ tercecer setiap jejak dan tapaknya, dimana keringat telah menggarami, hingga lidahnya menjadi asin, hanya untuk rakyat yang ia cinta dan aku penyaksi itu.

Sungguh aku tak pernah tahu, kekuatan mistik apa yang memanggilnya ke dataran tinggi Lindu. Hingga pekatnya malam tak berbintang ia perkuda menembus rimba mengantar sepercik api yang akan menerangi jalan setapak orang-orang Lindu. Sejatinya sebilah sangkur, pembangunan adalah titik berangkat pada apa yang didefinisikan sesuatu yang lebih baik dari sebuah situasi yang lebih buruk, tetapi ia membawa kutukan yang akan menikam balik dan melukai ketika pemaknaan baik atau buruk itu dimonopoli dan menghantu orang-orang di desa. Dan itupun berhenti.

Sama tidak tahunya aku, suanggi apa yang membawa lelaki itu menyambangi orang-orang yang terlupakan hanya untuk merawikan bahwa hukum telah tersesat dan ia membawa harapan akan keadilan yang akan tumbuh dan menggurita dari pelosok-pelosok tanah-tanah yang dinyatakan tak bertuan dimana kadangkala segala rasa, karsa dan budaya kerapkali digilas untuk sebuah tujuan yang mengendarai mekanikal dingin positifisme hukum sebagai tools of social enginering yang memporak-porandakan segala sendi kehidupan.

Suatu kali lelaki itu teramat galau dan seperti orator ia berpidato tentang makna ke Indonesiaan. Seperti palu, setiap kata yang terlompat memukul kesadaran akan kebersamaan ketika bangsa ini mencoba merekonstruksi persamaan dan melupakan perbedaan untuk sebuah martabat dan berdiri gagah berwibawa di panggung dunia.

Bahwa betul pada masanya ada banyak kelompok, golongan dan lapisan rakyat yang tertindas, tetapi segala perjuangan itu tidak diabdikan untuk merangkak naik ke panggung kuasa untuk kemudian berprilaku sama dengan penindas itu. Karena itulah di hari-hari terakhirnya, lelaki itu tidur berbantalkan konstitusi.

Andiko Sutan Mancayo, Direktur HuMa Jakarta

One Response to Di Seratus Hari Keberangkatan: Catatan Pertama Untuk Haedar Laujeng

  1. warok says:

    maknyus tulisannya…
    :)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

*

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>